Senin, 26 Juli 2010

Robohnya Surau kami


mungkin..untuk situasi sekarang ini cerpen"robohnya surau kami"karya ali akbar navis(AA.NAVIS),contoh karya yang makin menemukan aktualisasinya.
Dalam cerpen itu,ajo sidi(seorang pembual) dan kakek garin(seorang penjaga sekaligus imam surau yang taat beribadah).
Melalui cerpen itu di sebutkan bahwa bumi"indonesia"maha kaya raya,namun..manusianya malas-malas,saling berkelahi,saling menipu,dan saling memeras antara mereka sendiri.sehingga hasil tanahnya orang lainlah yang mengambil.

Kakek garin...seorang penjaga sekaligus imam surau yg taat beribadah,hingga masa tua dia hidup"membujang".ia mendapatkan uang dari"sedekah"yang di pungutnya sekali se jum'at,dari bagi hasil"pemunggahan"emapng yg terletak di depan surau,dan dari fitrah hari raya warga kepadanya sekali sertahun.ia juga kadang mendapat upah dari"kepandaiannya"mengasah pisau dan gunting.Namun..kepandaian ini tidak di gunakan sebagai"profesi"tapi hoby semata.
Sebelum seorangpembual(ajo sidi),semua baik2 saja.Dia(ajo sidi)datang menemui kakek garin untuk minta di asahkan pisau.dan tragis.....beberapa hari kemudian kakek garin di dapati"bunuh diri"menggorok leher sendiri.
"Sang pencerita"merasa pasti bahwa penyebab kemuramdurjaan kakek garin adalah karena "tersindir" oleh dongengan ajo sidi.
Dlam buakannya..,ajo sidi menceritakan orang-orang yang sudah berpulang ke rahmatulloh.dan ia (ajo sidi) bercerita tentang haji soleh,yang bersama sekian banyak orang soleh lainnya,bahkan sampai ada yg sudah 14 kali ke mekkah dan bergelar syekh pula.namun ahirnya kena murka tuhan di adang mahsyar,dan ahirnya harus masuk "neraka".Padahal mereka merasa sebagai "umat"yg paling taat beribadah,menyembah,menyebut,memuji-muji kebesaran tuhan,mempropagandakan keadilannya,bahkan kitabnya pun hafal di luar kepala.Namun kritik tuhan tajam kepada haji soleh dan kawan2nya itu:>>Aku beri kau negeri kaya raya,tapi kau malas.kau lebih suka beribadah saja,karena peribadatan tdk mengeluarkan peluh,tidak membanting tulang,sedang AKU menyuruh kalian semuanya beramal di samping beribaadah.

Melalui cerpen ini sang pencerita(AA.NAVIS),secara kritis melihat situasi kehidupan beragama masyarakat kita yg memandang bahwa "ibadah" itu terbatas pada mengaji,puasa,naik haji dan shalat saja.sang pencerita meanwarkan bahwa "kerja"juga ibadah.
Bekerja dengan tekun pada jalan yg benar,mengolah hasil bumi,kekayaan alam,atau memahami gejala alam untuk ilmu pengetahuan jg ibadah.
Lebih jauh.. kehidupan ahirat merupakan hasil usaha umat manusia di dunia.usaha di dunia berarti menghidupi diri dan saudara2nya yg lain dalam rangka mencari kehidupan yg sejahtera dan bahagia.Usaha untu kehidupan dunia dan ahirat haruslah seimbang.

Kiranya jelas...sang pencerita melalui "robohnya surau kami" telah dengan tajam melukiskan betapa agama kehilangan spiritnya mana kala ia di hayati semata-mata hanya sebagai "seremoni",sebagai ritual rutin belaka.
Di lain sisi,sebenarnya "robohnya surau kami" adalah cerpen yg "ambigu(selepsis). Pencerita memang menolak pandangan kolot kakek,malah membencinya,namun sekaligus "menyayangkan"kematiannya,kematian yg menyebabkan"surau kami roboh" dan hilangnya syiar agama.
Pun terhadap ajo sidi(pembual),pencerita tak menyangkal "kebenaran"dongengnya,tp sekaligus menganggap ajo sidi sama sekali tidak bertanggung jawab.saat tahu kakek garin meninggal,ajo sidi tetap pergi kerja dan hanya meninggalkan pesan kepada istrinya agar di belikan kain kafan buat kakek garin tujuh lapis.
Kesimpulannya.....islam tidak mengajarkan kepada kita sebatas shalat,haji,umroh,dan dzikir semata,namun islam mengajarkan kepada kita agar "bekerja" baik di dunia dan ahirat kelak.

Sabda rosul.....carilah hartamu(dunia) seakan kau hidup selamanya,dan carilah ahiratmu seakan kau mati esok pagi.
wallahu 'alam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar